Rangkaian Pilihan

Hidup adalah serangkaian pilihan. Itulah yang saya alami dua hari lalu. Sore itu, adik saya hendak wawancara kerja di salah satu perusahaan yang berlokasi di sebuah mal mewah di pusat ibu kota. Tadinya saya sempat berpikir untuk menyusul ke sana sepulang kerja, tapi karena belum jelas jam berapa wawancaranya selesai, ditambah saya sudah teramat letih, akhirnya saya memutuskan untuk pulang. Biasanya saya naik commuter line tapi hari itu sudah agak sore, bakal lama nunggu Kopaja yang mengarah ke stasiun tujuan, saya akhirnya memutuskan untuk naik patas. Di perempatan jalan besar, saya pun berdiri menunggu transpor umum itu.

Beberapa menit berlalu, namun patas yang ditunggu tak kunjung datang. Sementara taksi berseliweran menggoda. Sembari menunggu, iseng saya sms Kakak yang sedang menunggu Adik, bertanya apa sebaiknya saya ke mal saja, biar bisa pulang bareng mereka. Kakak saya lalu menyuruh saya naik Transjak karena sudah dekat dengan tujuan. Tapi saat itu saya kepingin naik taksi, karena rasanya badan pegal bukan main, pikiran letih. Heran, taksi yang sebelumnya banyak melintas, giliran dibutuhkan malah tidak ada yang lewat. Akhirnya saya pun naik tangga penyeberangan. Transjak saja. Jalan sedikit di jembatan penyeberangan, tapi yang penting ongkos murah meriah.

Di halte transit, perjalanan jalan kaki untuk pindah ke koridor Transjak tujuan saya sebenarnya panjangggg banget. Tapi saya pikir ini cara yang paling praktis. Terlebih waktu semakin merangkak larut. Belum terlalu malam, tapi jalanan mulai macet.

Tiket Transjak sudah dibeli dan saya siap menunggu di muka halte, tiba-tiba di jalan raya melintaslah patas AC yang setahu saya lewat langsung di depan jalan yang menuju mal tujuan. Erghhh… Gondok banget rasanya. Padahal dengan menumpang patas itu saya tidak akan perlu lagi bercapek-capek ria melintasi jembatan halte Transjak. Tapi, ya sudahlah, tiketnya telanjur dibeli.

Tak lama menunggu, datanglah bus Transjak-nya. Ehh, ternyata kosong. Tumben. Padahal jam orang pulang kantor. Saya pun masuk ke bus dan duduk nyaman di dalamnya. Transjak kemudian melaju menembus kemacetan ibu kota dengan cukup mulus, kecuali di beberapa titik tempat mobil masuk dan keluar jalan tol. Di jalan, bus kami sempat menyusul patas AC barusan yang kepingin saya naiki. Dalam hati saya malu sendiri karena tidak sabaran. Alhamdulillah karena naik Transjak jadi tidak kejebak macet. Pandangan manusia terkadang memang tidak jauh ke depan.

Dalam perjalanan, selagi asyik mengamati bangunan pencakar langit Jakarta, tiba-tiba adik saya sms, wawancara kerja selesai, mereka mau pulang. Wah, kebetulan. Saya memang sedang malas benar ke mal, apalagi mal mewah. Dasar memang bukan anak mal, saya kurang nyaman berlama-lama nongkrong di mal kecuali memang sudah jelas tujuannya mau beli apa atau mau ngapain.

Saya pun janjian dengan saudara-saudara saya untuk bertemu di luar halte transit. Dan perjalanan panjang menyusuri jembatan transit yang semula membuat saya ragu untuk naik bus Transjak, kenyataannya tidak seburuk bayangan. Mengamati kerlap-kerlip lampu kota dan lampu sorot mobil-mobil yang terjebak kemacetan memberikan nuansa tersendiri bagi saya yang hampir setiap hari naik commuter line dengan pemandangan kumuh rumah-rumah pinggir rel. Beberapa belas menit kemudian, saya sudah duduk nyaman di mobil, yang melaju lancar menuju RS untuk menginap menemani Papah.

Jadi, pada akhirnya, tidak ada yang sia-sia. Transpor publik yang saya naiki ternyata merupakan pilihan paling tepat. Meski awalnya saya sempat bersungut-sungut karena mengira telah salah pilih, di belakang hal itu malah memudahkan saya. Dan halangan saya untuk menaiki transpor yang lain, terbukti malah menggiring saya kepada keputusan yang tepat itu.

Sekadar analogi sederhana dengan kehidupan saya yang lain. Mungkin ada beberapa hal yang sengaja dipersulit atau dihentikan sama sekali, karena dapat berakibat buruk bagi saya ke depannya. Atau sebenarnya ada pilihan lain yang ternyata lebih baik. Entahlah. Bagaimanapun, pandangan saya memang terbatas…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s