Bertahan

Membaca sebaris kalimat di blog orang, “Allah Maha membolak-balikkan keadaan,” dan tanpa sadar air mata saya menetes. Haru teramat sangat merasuk. Betapa sering saya nyaris berputus asa, sedih bukan main kala dilanda musibah, atau setidaknya begitu menurut pengamatan saya yang pendek ini. Berhari-hari, bahkan berminggu-minggu dilanda nestapa, seakan tidak mungkin ada jalan keluar atau pencerahan atas keadaan saya itu. Dan ketika seorang sahabat meminta saran mengenai keponakannya yang sedang mengalami masalah tidak enak dan kata-kata penghibur seperti apa yang bisa dia sampaikan, saya hanya dapat berkata, “Bertahanlah. This too shall pass.” Meski pada praktiknya, susahnya minta ampun. Bertahan saat diri lebih memilih menuruti hawa nafsu dan terpuruk dengan keadaan perjuangannya sangat berat. Apalagi kalau memang tidak pernah dilatih. Segala pertahanan diri jebol, mungkin karena jarang ditempa, sehingga baru sadar ternyata lapisan imannya teramat tipis. Karena yang ideal adalah bersyukur kala dilanda musibah, dan mawas diri kala mendapat kebaikan. Bersama dengan kesulitan ada kemudahan. Bukan sebelum atau sesudahnya, tapi bersamaan. Segala perkara, suka dan duka, hanyalah gundukan yang mau tidak mau mesti dilewati dan sifatnya temporer. Allah Maha membolak-balikkan keadaan. Tidak selamanya jalan kita itu dipenuhi gundukan, yang mungkin sebenarnya ada baiknya agar di depan jalan kita nanti tidak ditemui musibah yang lebih berat lagi. Dan gundukan-gundukan itu akan usai. Tidak ada yang temporer di sini. Tidak ada yang sempurna sifatnya. Jadi, bertahanlah. 

Koma, si kecil nan vital

Penempatan koma bisa memberikan arti yang sangat berbeda, seperti yang saya temui pagi ini. Untung naskahnya masih dalam tahap baca proof, jadi bisa dikoreksi.

C.1.

Entah bagaimana mereka bisa menghadapi para tetangga.

C.2.

Entah bagaimana, mereka bisa menghadapi para tetangga.

Contoh pertama menunjukkan kebingungan, sementara contoh kedua menyatakan kesanggupan. Jadi, berhati-hatilah saat menggunakan koma 🙂

Sinopsis favorit

Sekali-dua kali saya memang memilih menerjemahkan dari buku asli dan hanya melakukan sedikit perubahan di sana-sini kala membuat sinopsis, terutama bila isinya sudah cukup bagus dan mewakili isi cerita. Namun terkadang, saya juga harus membuat sinopsis sendiri. Dan inilah salah satu favorit saya 🙂

Image

Berikut ini sepuluh hal yang perlu kauketahui tentang kisah ini: Satu, si tampan Sebastian Grey memiliki rahasia yang tidak diketahui oleh siapa pun, termasuk Dua, Annabel Winslow, wanita cantik agak urakan, yang kebetulan dijodohkan kakek-neneknya dengan paman Sebastian, Earl of Newbury yang, Tiga, berambisi memiliki keturunan untuk mencegah hartanya jatuh ke tangan ahli warisnya, yaitu Sebastian sendiri!

Namun takdir berkata lain, karena Empat, terjadilah pertemuan romantis nan konyol di padang belukar antara Sebastian dan Annabel yang mengubah segalanya. Mulai dari Lima, malam indah yang mereka lewatkan di gedung opera, hingga Enam, jalan-jalan singkat di taman yang menjadikan Annabel primadona pesta dansa. Sayang, Tujuh, sang earl masih berambisi memiliki Annabel, dan Delapan, ada keluarga di desa yang menantikan pernikahan Annabel dengan pria kaya raya. Ketika kejadian tak terduga nomor Sembilan membuat gempar semua orang, sungguh, hanya itu yang dibutuhkan Annabel dan Sebastian untuk meraih Sepuluh, kebahagiaan sejati.

(Nyaris) Sebunyi tapi tak sama

Image

Mungkin Anda bertanya-tanya, apa maksud foto-foto di atas dijajarkan berdampingan. Sekilas melihat, sepertinya di antara keenam foto itu tidak ada persamaan. Yah, setidaknya begitu bagi kita, tapi tidak bagi ibu saya 🙂

Entah karena kebiasaan atau memang sudah dari sananya begitu, ibu saya, atau yang biasa saya panggil Mamah, memang suka terbalik-balik kalau ngomong. Sudah sering sekali kami tidak paham dengan maksud beliau karena terkadang Mamah pengin ngomong A, tapi yang terucap malah B. Penginnya nyuruh belok kanan, tapi bilangnya belok kiri. Bahkan, kalau sampai lama kami tidak kunjung mengerti kata-kata beliau, jadinya suka sama-sama kesal. Mamah karena gemas dengan kami yang nggak mudeng-mudeng, kami yang jengkel karena mesti putar otak mencari tahu kata apa yang sebenarnya dimaksud.

Pernah nih kami sedang kumpul-kumpul dengan kerabat. Ngobrol ngalor ngidul. Kami lalu ngomongin film-film lawas beserta gosip para pemainnya. Saya tidak ingat persis film apa yang tengah kami bahas waktu itu, tapi saya ingat jelas Mamah berkali-kali ngomong,

“Masa nggak ada yang inget sama Ethiopia. Itu tuh, si Ethiopiaa…”

Apa sih maksudnya? Mana ada artis namanya Ethiopia? Setelah diusut beberapa menit, sembari Mamah melontarkan nama-nama lain yang main bareng si Ethiopia, barulah kami ngeh yang dimaksud Mamah ternyata artis lawas Yati Octavia! Oalahhh...

Lain waktu, ceritanya Mamah dan adik saya sedang ke toko buku di London. Karena tahu anaknya di Indonesia, which is saya, hobinya baca buku, Mamah pun inisiatif ingin membelikan anaknya oleh-oleh buku. Didatangilah si petugas toko.

Sir, I want to buy the book for kids, helicopter.”

Helicopter? For kids?

Yes, yes. Helicopter, helicopter, you know?

Si bule petugas toko mengernyit bingung sambil menggelengkan kepala. Buku helikopter untuk anak-anak?

Selagi Mamah terus berusaha menjelaskan buku yang dimaksud, adik saya yang tadinya berdiri agak jauh, berjalan menghampiri dan baru ngeh dengan percakapan itu.

Dia pun langsung berbisik, “Harry Potter, Mah. Harry Potter judulnya.”

Eh… Oh, Sir, I mean, Harry Potter. You know, the popular book for kids? Magic?

Dan barulah om bule akhirnya manggut-manggut 😀

Ada lagi kejadian pas lagi di mal. Ceritanya usai berkeliling, sebelum pulang saya mampir dulu di toko roti. Setelah membeli sepotong Velvet Cake, Mamah kemudian nyeletuk, “Kamu ga beli yang di sampingnya juga?”

“Apaan yang di sampingnya?”

“Itu, Rambo Cake.”

“Hah? Rambo Cake? Apaan tuh? Baru denger.”

“Itu tuh Rambo Cake, yang kuenya berlapis-lapis, warna-warni.”

“Hadeuhh, Mamahhh… Itu mah Rainbow Cake kaliiii…”

“Yah sama aja. Maksudnya juga itu.” T_T

Tapi sihhh… terlepas dari salah omong Mamah yang kadang-kadang terjadi itu, harus saya akui, kejadian terakhir ini bikin saya angkat topi untuk beliau. Jadi, ceritanya kami sedang makan di foodcourt. Sambil makan, saya melihat-lihat ke sekeliling foodcourt, kemudian salah satu papan nama rumah makan menarik perhatian saya.

“Lihat deh itu. Nama Jepang sih nama Jepang, tapi ya dipilih-pilih gitu kalau mau dijadiin nama usaha. Masa Kamikaze. Itu kan artinya bunuh diri.”

Adik saya ikut mengiakan, sambil kami memikirkan nama-nama lain yang lebih cocok dipakai untuk usaha makanan. Eh, tiba-tiba Mamah nyeletuk, “Bukannya bunuh diri bahasa Jepang-nya harakiri?” Jedaaar…

Ya ampun. Saya dan adik langsung terbahak-bahak. Sekali ini, Mamah benar! Nggak sia-sia deh ternyata hobi ngisi TTS 😀

Bonjour! Jambo! Halo :)

Akhirnya bikin blog juga di sini 😀

Setelah “digusur” di blog sebelah gara-gara kepentingan komersil, dan kesepian di blog sebelahnya lagi karena memang bikinnya sembunyi-sembunyi (hehe…), akhirnya bikin juga deh di sini. Tadinya berniat bikin beberapa blog untuk memuaskan hasrat menulis. Blog khusus puisi, blog khusus gambar, blog khusus foto, blog khusus cerpen, blog khusus cerber…eaaa… Repot yaa.. Akhirnya diputuskan, cukup dua blog saja deh. Blog pribadi buat racauan ga jelas, dan blog ini untuk apa saja, suka-suka 😉

Jujur saja, sebenarnya saya tidak terlalu pintar merangkai kata-kata. Hobi bikin puisi ya karena puisi tidak menuntut pemaparan data yang runut. Sesuka hati saya saja, toh yang ngerti maknanya juga saya seorang… hehehe… Tapi kata teman saya, menulis itu adalah terapi. Dan karena saat ini saya sedang teramat sangat butuh terapi (terapi pijat buat pegal-pegal maksudnya), jadi yah, mari kita menulis!

Selamat membaca 🙂

“Man is least h…

“Man is least himself when he talks in his own person. Give him a mask, and he will tell you the truth.” -Oscar Wilde

Beberapa orang mungkin akan lebih nyaman bernaung di balik simbol-simbol. Nama samaran, avatar palsu, status rancu. Ada ekspektasi atau penilaian tertentu dari identitas yang terang dan jelas. Memicu kemungkinan membatasi gerak dan ucapan. Dan terkadang sedikit privasi memang dibutuhkan. Tapi bukan di sini. Di tempat lain..hehe.. Di sini justru berharap bisa sedikit berbagi.

Semoga terhibur dan merasakan manfaat. Terima kasih 🙂